Menengok Dosen Pulang Kampung
Belum lama, salah satu kampus pertanian yang cukup tersohor di negeri ini, Institut Pertanian Bogor (IPB) meluncurkan program bertajuk Dosen Pulang Kampung (Dospulkam). Patut kita acungi jempol di tengah terjalnya kemiskinan dan program strategis, kalau boleh disebut merupakan program balas budi kepada desa.
Selain menjadi bagian dari pengamalan Tri Dharma Perguruan Tinggi, program Dospulkam juga merupakan upaya mendorong inovasi semakin luas bisa diterapkan di masyarakat.
Kampus memang memiliki tugas untuk menerapkan inovasi demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Harapan kita tentu dengan program ini para dosen dapat membentuk learning center sekaligus contextual learning di kampung halaman. Inilah kontribusi nyata mengembangkan kesejahteraan dan kemajuan Indonesia.
Kita ingin, para dosen dengan atribut akademik yang turun ke bawah ini betul-betul menjadi agen pembaharu dan perubahan bagi kemajuan daerah. Bayangan penulis, nanti para Dosen akan mengajarkan kepada masyarakat desa tentang peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis UMKM dan BUMDES, peningkatan kualitas pendidikan formal dan informal.
Atau mereka akan mengedukasi tentang pengembangan dan pengelolaan potensi wisata, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, peningkatan produktifitas pertanian, pengembangan energi terbarukan, pengembangan IT dan sistem informasi desa, penanganan bencana dan berbagai program lain yang memberikan dampak signifikan bagi kemajuan daerah dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Penulis jadi teringat kisah Muhammad Kasim Arifin (Kasim), seorang mahasiswa IPB yang mengabdikan dirinya untuk kemajuan daerah dan kesejahteraan masyarakat Waimital, Pulau Seram Maluku. Kisahnya sungguh luar biasa dan bisa menjadi panutan bagi kita. Mengabdi tanpa pamrih, hanya ingin menularkan apa yang diketahui dalam rangka memajukan masyarakat.
Seluruh stakeholder harus bersatu untuk memajukan Indonesia, tak terkecuali termasuk masyarakat kampus.
Kita harus terus berikhtiar memantapkan kebersamaan dan kegotong-royongan demi kemajuan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat. Tidak mudah, tapi bukan berarti tidak mungkin diwujudkan. Yang penting semua guyub bersatu padu saling membantu. Itu kata kunci untuk memajukan pembangunan yang menyejahterakan dan memandirikan rakyat.
Sejalan dengan program Dospulkam, kita pernah merasakan aroma program serupa meski tak sama, seperti program Tenaga Kerja Sukarela (TKS Butsi), kemudian ada Sarjana Penggerak Purna Waktu (SP2W) era inpres desa tertinggal, terdapat pula Sarjana dan Pemuda Penggerak Pembangunan (SP3) berlanjut muncul pendamping desa P3MD, PNPM, Dana Desa maupun berbagai pendampingan dari Kementerian/Lembaga, Diaspora Membangun desa, Indonesia Mengajar dan sebagainya.
Intinya, mereka terjun ke desa, mendampingi masyarakat membangun desa sehingga warga desa berani mengambil keputusan tentang masa depannya. Jika kita telaah, rupanya aneka program di atas masih relevan dengan dinamika pembangunan di tanah air.
Selain itu, program KKN yang membanjiri desa, program TMMD menjadi bukti betapa desa telah, sedang dan akan terus menjadi perhatian pemerintah untuk membalik kemiskinannya. Miskin tak sekadar kurang harta, tapi juga menyangkut kurusnya nilai, sikap dan mental masyarakat.
BPS Maret 2022 mencatat, angka kemiskinan mencapai 26,16 juta orang atau 9,54 persen. Dan, kemurungan tersebut menjadi PR Bersama yang harus kita carikan jalan keluar secara gotong royong.
Saat ini kita telah menempatkan desa/kelurahan sebagai aktor dan sekaligus basis pembangunan. Dana pembangunan yang langsung dialokasikan ke desa sangat besar, baik dari pusat maupun Pemda. Jika kemudian terbit juga beragam gerakan maupun kampanye turun ke desa, tidak ada yang salah, karena dana desa yang dikucurkan pemerintah pun hingga sekarang tak kurang dari Rp 400 triliun.
Belum lagi program atau kegiatan dari OPD yang langsung menyasar pada pemberdayaan desa juga tidak sedikit. Praktik itu pula menandai bukti cinta orang tua kepada anak-anaknya (pemerintah kepada desa), demi satu tujuan kemandirian dan daya saing masyarakat desa. Intinya membantu masyarakat untuk semakin berdaya, mandiri dan sejahtera.
Maka, orientasi pedesaan menjadi menu favorit untuk membuka wawasan, ketrampilan, sikap dan nilai-nilai baru yang lebih produktif bagi masyarakat desa, terutama kaum muda. Sehingga mereka mampu mendobrak dirinya keluar dari jebakan batman mental buruh yang cenderung pragmatis dan instan. Di sinilah program Dospulkam menjadi setitik debu lembut yang mesti membawa perubahan (baper).
Harapannya, semangat kegotongroyongan ini betul-betul dapat menjiwai pelaksanaan program Dospulkam nantinya. Apapun program yang dikerjakan, kita pastikan selalu dalam framing bergandeng tangan. Membangun teamwork yang solid, dan kompak serta sekaligus perkuat kebersamaan dengan masyarakat.
Ingat, bagaimanapun penghormatan kepada nilai budaya dan nilai kehidupan masyarakat sebagai kearifan lokal, khususnya di desa sebagaimana kita ada yang terlahir di sana. Karena masing-masing desa itu punya local wisdom sendiri. Ada norma di masyarakat yang tertulis atau bahkan tidak tertulis.
Apalagi saat ini kita sedang gencar-gencarnya membangun desa. Seperti di Jateng ada program 1 OPD 1 Desa Dampingan, Sekolah Tanpa Sekat, Boarding School gratis bagi anak miskin pintar di SMKN Jateng maupun program yang langsung menyasar pada pemberdayaan desa juga tidak sedikit. Mungkin ke depan tak sedikit crazy rich yang turun ke desa.
Mari kita mengabdikan dan mempraktikkan ilmu yang sudah diperoleh ini kepada masyarakat, nanti yang ahli energi, pertanian, teknik, hukum dan lainnya kita dorong bersama-sama supaya yang para expert (ahli) ini berkontribusi pada bidangnya masing-masing.
Kita tunggu program-program inovatif dari bangku kampus Indonesia dengan bahasa masing-masing. Sudah saatnya kita melunasi hutang kita kepada rakyat. Ada waktu berkata-kata, ada waktu berbuat nyata, urun angan dan turun tangan, semua terlibat membangun Indonesia dari desa. (Marjono, Tukang Ketik di Semarang)
*Keseluruhan isi opini merupakan tanggung jawab pengirim.
Belum lama, salah satu kampus pertanian yang cukup tersohor di negeri ini, Institut Pertanian Bogor (IPB) meluncurkan program bertajuk Dosen Pulang Kampung (Dospulkam). Patut kita acungi jempol di tengah terjalnya kemiskinan dan program strategis, kalau boleh disebut merupakan program balas budi kepada desa.
Selain menjadi bagian dari pengamalan Tri Dharma Perguruan Tinggi, program Dospulkam juga merupakan upaya mendorong inovasi semakin luas bisa diterapkan di masyarakat.
Kampus memang memiliki tugas untuk menerapkan inovasi demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Harapan kita tentu dengan program ini para dosen dapat membentuk learning center sekaligus contextual learning di kampung halaman. Inilah kontribusi nyata mengembangkan kesejahteraan dan kemajuan Indonesia.
Kita ingin, para dosen dengan atribut akademik yang turun ke bawah ini betul-betul menjadi agen pembaharu dan perubahan bagi kemajuan daerah. Bayangan penulis, nanti para Dosen akan mengajarkan kepada masyarakat desa tentang peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis UMKM dan BUMDES, peningkatan kualitas pendidikan formal dan informal.
Atau mereka akan mengedukasi tentang pengembangan dan pengelolaan potensi wisata, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, peningkatan produktifitas pertanian, pengembangan energi terbarukan, pengembangan IT dan sistem informasi desa, penanganan bencana dan berbagai program lain yang memberikan dampak signifikan bagi kemajuan daerah dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Penulis jadi teringat kisah Muhammad Kasim Arifin (Kasim), seorang mahasiswa IPB yang mengabdikan dirinya untuk kemajuan daerah dan kesejahteraan masyarakat Waimital, Pulau Seram Maluku. Kisahnya sungguh luar biasa dan bisa menjadi panutan bagi kita. Mengabdi tanpa pamrih, hanya ingin menularkan apa yang diketahui dalam rangka memajukan masyarakat.
Seluruh stakeholder harus bersatu untuk memajukan Indonesia, tak terkecuali termasuk masyarakat kampus.
Kita harus terus berikhtiar memantapkan kebersamaan dan kegotong-royongan demi kemajuan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat. Tidak mudah, tapi bukan berarti tidak mungkin diwujudkan. Yang penting semua guyub bersatu padu saling membantu. Itu kata kunci untuk memajukan pembangunan yang menyejahterakan dan memandirikan rakyat.
Sejalan dengan program Dospulkam, kita pernah merasakan aroma program serupa meski tak sama, seperti program Tenaga Kerja Sukarela (TKS Butsi), kemudian ada Sarjana Penggerak Purna Waktu (SP2W) era inpres desa tertinggal, terdapat pula Sarjana dan Pemuda Penggerak Pembangunan (SP3) berlanjut muncul pendamping desa P3MD, PNPM, Dana Desa maupun berbagai pendampingan dari Kementerian/Lembaga, Diaspora Membangun desa, Indonesia Mengajar dan sebagainya.
Intinya, mereka terjun ke desa, mendampingi masyarakat membangun desa sehingga warga desa berani mengambil keputusan tentang masa depannya. Jika kita telaah, rupanya aneka program di atas masih relevan dengan dinamika pembangunan di tanah air.
Selain itu, program KKN yang membanjiri desa, program TMMD menjadi bukti betapa desa telah, sedang dan akan terus menjadi perhatian pemerintah untuk membalik kemiskinannya. Miskin tak sekadar kurang harta, tapi juga menyangkut kurusnya nilai, sikap dan mental masyarakat.
BPS Maret 2022 mencatat, angka kemiskinan mencapai 26,16 juta orang atau 9,54 persen. Dan, kemurungan tersebut menjadi PR Bersama yang harus kita carikan jalan keluar secara gotong royong.
Saat ini kita telah menempatkan desa/kelurahan sebagai aktor dan sekaligus basis pembangunan. Dana pembangunan yang langsung dialokasikan ke desa sangat besar, baik dari pusat maupun Pemda. Jika kemudian terbit juga beragam gerakan maupun kampanye turun ke desa, tidak ada yang salah, karena dana desa yang dikucurkan pemerintah pun hingga sekarang tak kurang dari Rp 400 triliun.
Belum lagi program atau kegiatan dari OPD yang langsung menyasar pada pemberdayaan desa juga tidak sedikit. Praktik itu pula menandai bukti cinta orang tua kepada anak-anaknya (pemerintah kepada desa), demi satu tujuan kemandirian dan daya saing masyarakat desa. Intinya membantu masyarakat untuk semakin berdaya, mandiri dan sejahtera.
Maka, orientasi pedesaan menjadi menu favorit untuk membuka wawasan, ketrampilan, sikap dan nilai-nilai baru yang lebih produktif bagi masyarakat desa, terutama kaum muda. Sehingga mereka mampu mendobrak dirinya keluar dari jebakan batman mental buruh yang cenderung pragmatis dan instan. Di sinilah program Dospulkam menjadi setitik debu lembut yang mesti membawa perubahan (baper).
Harapannya, semangat kegotongroyongan ini betul-betul dapat menjiwai pelaksanaan program Dospulkam nantinya. Apapun program yang dikerjakan, kita pastikan selalu dalam framing bergandeng tangan. Membangun teamwork yang solid, dan kompak serta sekaligus perkuat kebersamaan dengan masyarakat.
Ingat, bagaimanapun penghormatan kepada nilai budaya dan nilai kehidupan masyarakat sebagai kearifan lokal, khususnya di desa sebagaimana kita ada yang terlahir di sana. Karena masing-masing desa itu punya local wisdom sendiri. Ada norma di masyarakat yang tertulis atau bahkan tidak tertulis.
Apalagi saat ini kita sedang gencar-gencarnya membangun desa. Seperti di Jateng ada program 1 OPD 1 Desa Dampingan, Sekolah Tanpa Sekat, Boarding School gratis bagi anak miskin pintar di SMKN Jateng maupun program yang langsung menyasar pada pemberdayaan desa juga tidak sedikit. Mungkin ke depan tak sedikit crazy rich yang turun ke desa.
Mari kita mengabdikan dan mempraktikkan ilmu yang sudah diperoleh ini kepada masyarakat, nanti yang ahli energi, pertanian, teknik, hukum dan lainnya kita dorong bersama-sama supaya yang para expert (ahli) ini berkontribusi pada bidangnya masing-masing.
Kita tunggu program-program inovatif dari bangku kampus Indonesia dengan bahasa masing-masing. Sudah saatnya kita melunasi hutang kita kepada rakyat. Ada waktu berkata-kata, ada waktu berbuat nyata, urun angan dan turun tangan, semua terlibat membangun Indonesia dari desa. (Marjono, Tukang Ketik di Semarang)
*Keseluruhan isi opini merupakan tanggung jawab pengirim.