Menjaga Tubuh, Merawat Amanah: Kisah Bugar Adventure Camp Banyumas Raya 2026

cilacapedia, Banyumas — Pagi di kawasan Baturraden terasa berbeda bagi 167 orang yang berkumpul di Bumi Perkemahan Wana Wisata Baturraden, Kabupaten Banyumas, Sabtu – Minggu (12-13/9/2026).
Udara pegunungan yang sejuk, pepohonan yang menjulang, dan suasana alam menjadi latar sebuah perjalanan yang lebih dari sekadar aktivitas luar ruang. Di tempat itu, para peserta Bugar Adventure Camp (BAC) Banyumas Raya diajak berhenti sejenak dari rutinitas, mengingat kembali satu hal yang kerap terlupakan: menjaga tubuh tetap sehat dan bugar.
Sebanyak 69 peserta dari kelompok pria mengikuti kegiatan yang berlangsung 12–13 September 2026 tersebut. Mereka datang dari Kabupaten Cilacap, Banyumas, Purbalingga, dan Banjarnegara menyatu dalam program yang digagas Komunitas Bugar Jateng itu. Para peserta membawa semangat yang sama, belajar menjaga kebugaran sekaligus memperkuat kesiapan menjalankan aktivitas dan amanah kehidupan.
Bagi sebagian orang, olahraga mungkin hanya dipandang sebagai cara menjaga bentuk tubuh. Namun, di BAC Banyumas Raya, kebugaran diletakkan dalam makna yang lebih luas. Tubuh yang sehat dipandang sebagai bekal untuk terus bergerak, bekerja, berkeluarga, bermasyarakat, dan menjalankan aktivitas dakwah.
Ketua Panitia BAC Banyumas Raya, Prasetyo Putra Syaeli, mengatakan kegiatan tersebut dirancang untuk meningkatkan pemahaman sekaligus kesadaran peserta tentang pentingnya menjaga pola hidup sehat dan bugar.
“Tak hanya sehat, tapi bugar karena masih banyak amanah dakwah dan misi menyebarluaskan manfaat bagi keluarga dan masyarakat,” jelasnya.
Kalimat itu menjadi pengingat bahwa kesehatan bukan hanya urusan diri sendiri. Ketika tubuh terjaga, seseorang memiliki lebih banyak kesempatan untuk hadir dan memberikan manfaat bagi orang-orang di sekitarnya.
Apalagi, kehidupan modern membawa tantangan tersendiri. Pola hidup yang semakin praktis, aktivitas fisik yang semakin berkurang, serta kebiasaan sehari-hari yang kurang sehat perlahan berdampak terhadap kondisi kesehatan masyarakat.
Kesadaran untuk berolahraga pun masih menjadi pekerjaan bersama. Di tengah kondisi tersebut, Penyakit Tidak Menular (PTM) terus menjadi ancaman serius dan salah satu penyebab utama kematian. Karena itu, BAC tidak berhenti pada teori.

Para peserta mengikuti rangkaian kegiatan selama dua hari. Mereka mendapatkan materi mengenai teknik olahraga ringan untuk meningkatkan massa otot yang dapat dilakukan di rumah. Tidak diperlukan peralatan olahraga yang mahal atau tempat khusus. Yang dibutuhkan adalah kemauan untuk memulai dan konsistensi untuk menjalaninya.
Materi Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K) juga diberikan sebagai bekal menghadapi situasi darurat. Kegiatan kemudian dilengkapi dengan mini outbound yang mengajak peserta bergerak, bekerja sama, sekaligus menikmati suasana alam Baturraden.
Di sela kegiatan, pesan pentingnya kebugaran kembali ditekankan. Bukan sekadar agar tubuh tidak mudah sakit, tetapi agar tubuh memiliki daya tahan untuk menopang berbagai aktivitas, termasuk aktivitas dakwah.
Hari kedua menjadi bagian yang cukup mengesankan. Para peserta berjalan kaki sejauh sekitar lima kilometer menuju Pancuran Pitu, Baturraden.
Langkah demi langkah ditempuh. Napas mulai terasa lebih berat, keringat membasahi tubuh, tetapi perjalanan terus dilanjutkan.
Di situlah kebugaran menemukan maknanya. Bukan tentang siapa yang paling cepat sampai, melainkan tentang kesanggupan untuk terus melangkah.

Perjalanan menuju Pancuran Pitu kemudian ditutup dengan komitmen untuk menjaga kebugaran. Sebuah komitmen sederhana, tetapi membutuhkan kesungguhan ketika kembali berhadapan dengan rutinitas sehari-hari.
Sementara itu, rombongan peserta wanita mengikuti kegiatan pada hari kedua. Mereka mendapatkan materi seputar kesehatan, mini outbound, serta aktivitas jalan kaki yang menjadi bagian dari rangkaian BAC Banyumas Raya.

Di antara peserta, ada Surendro dari Cilacap. Baginya, mengikuti BAC Banyumas Raya bukan sekadar menghabiskan akhir pekan di kawasan wisata pegunungan.
Ia justru merasa bersyukur mendapat kesempatan menjadi bagian dari kegiatan tersebut.
“Alhamdulillah, saya bersyukur ditakdirkan bergabung di acara ini. Luar biasa, meski hanya dua hari satu malam, acara ini memberikan menu jasmani dan rohani yang lengkap,” ungkapnya.
Memasuki usia 40-an, Surendro semakin menyadari bahwa menjaga kebugaran tidak bisa lagi dianggap sebagai urusan nanti.
Ada keluarga yang harus dijaga. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Ada masyarakat yang membutuhkan keberadaan dan kontribusi. Dan bagi mereka yang menjalankan aktivitas dakwah, masih ada banyak amanah yang menunggu untuk ditunaikan.
“Yang paling penting adalah komitmen menjaga kebugaran bagi kami yang sudah usia 40 tahunan,” katanya.

Dua hari satu malam di Baturraden akhirnya bukan hanya tentang berkemah, berolahraga, atau berjalan kaki lima kilometer. BAC Banyumas Raya menjadi ruang untuk mengingat kembali bahwa tubuh juga memiliki hak untuk dirawat.
Sebab, ada banyak kebaikan yang ingin dilakukan, banyak orang yang ingin dibantu, dan banyak amanah yang masih harus ditunaikan. Untuk semua itu, seseorang membutuhkan tubuh yang kuat untuk terus melangkah. (san)




