Alun dan Subari Bagai Langit dan Bumi
Kala kasus Mario Dandy Satrio (Mario) viral yang menganiaya Cristalino David Ozora (David). Dari video dan foto yang beredar di media sosial, Mario kerap memamerkan kendaraan dan barang-barang mewah, berlanjut harta kekayaan ayah Mario diungkit mulai netizen, Menkeu hingga KPK.
Terungkap bahwa Rafael Alun Trisambodo (Alun) pegawai eselon III Ditjen Pajak (DJP), memiliki harta kekayaan senilai Rp 56,1 miliar, jumlah yang dinilai tidak wajar bagi ASN Kemenkeu. Bahkan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) telah memblokir 40 lebih rekening Alun dan keluarga bernilai transaksi Rp 500 Miliar yang disinyalir memakai nominee.
Juru Bicara PPATK, Nasir Kongah mengatakan nominee adalah seseorang atau perusahaan yang namanya digunakan untuk pembelian suatu benda. Tetapi, (seseorang atau perusahaan) bukan pemilik asli dari benda tersebut (Kompas, 28/3/2023).
Melalui praktik kelam tersebut, barangkali Mario dan Alun menjadi begitu cepat terkenal, tapi jalan yang diambil keliru bahkan tidak elegan. Dengan kata lain, mereka mungkin sedang mencari panggung tapi ternyata salah panggung. Karena panggung yang satu ini kelewat kusam dan berkonsekwensi pada perkara hukum.
Membaca Mario dan Alun, kita semua menjadi sedih apalagi menyaksikan David yang sampai koma atas bengalnya Mario dan kawan-kawannya. Apa yang digelar oleh orang-orang cakap ini?
Rupanya kasus ini merupakan warisan purba yang narasi dan praktiknya selalu berulang.
Pertama, adidang adigung adiguna (menyombongkan kelebihan yang dia miliki : kekuatan-kekuasaan-kepandaian). Sombong karena jabatan orangtuanya, tinggi hati karena anak orang kaya, pamer bondho donya (harta dunia), dan seterusnya. Padahal keduanya hanya sampiran belaka.
Kedua, mentang-mentang (dumeh) lingkaran kehidupannya serba berkecukupan, apapun yang diinginkan pasti terpenuhi bahkan tak ada yang berani menolak atau nelawan. Merasa paling hebat.
Ketiga, lemah atau tepatnya lenyapnya sense of crisis. Hatinya kusut, bahkan keras atau membatu. Bergeming banget, tanpa peduli dan peka terhadap kepedihan lingkungan masyarakat yang sedang tertimpa musibah, bencana dan kesulitan hidup lainnya.
Kasus Mario dan Alun yang pengap dengan pamer harta kemewahan, khususnya bagi pejabat di lingkungan DJP, bukanlah hal baru. Sebelumnya deretan pegawai pajak yang bermasalah hukum dan viral, seperti Denok Taviperiana dugaan kepemilikan rekening gendut, begitu juga dengan Gayus Tambunan selain rekening tebal, Ia juga memanipulasi pajak, menyuap hakim, menyuap petugas LP hingga membuat paspor palsu. Kemudian ada Tommy Hindratno, juga terseret kasus suap.
Ingat Mario, ingat Alun yang tidak mengalun (lagi), justru membawa jangkar moral dan ingatan saya pada sosok Subari. Dia bukan seorang juragan maupun tuan tanah. Ia adalah petani biasa yang luar biasa karena telah menghibahkan lahan seluas 1.800 meter persegi untuk dijadikan embung. Dia sangat berjasa tidak untuk warganya, tapi juga Jawa Tengah.
Pemprov Jawa Tengah kemudian memberi anggaran sebesar Rp 3,5 miliar untuk membangun embung tersebut. Sebagai apresiasi, embung dinamai Embung Subari. "Terus terang saya lihat petani lain itu kekurangan air, kalau tempat saya kelebihan, jadi supaya bisa merata di Kalibareng saya ikhlas,” kata Subari.
Gubernur Ganjar Pranowo sempat bertanya mimpi apa yang membuat Subari memberikan tanah itu, sedangkan ia bisa mendapat uang lebih banyak jika menjualnya. “Kalau uang kan sekadar saya nikmati sendiri pak, tapi kalau embung dibuat kan masyarakat bisa sejahtera jadi bisa mbantu,” tutur Subari, disambut tepuk tangan tamu undangan dan peserta upacara Hari Pahlawan di Lapangan Simpang Lima, Semarang tahun silam.
Mr Clean
Subari adalah representasi pahlawan hari ini. Subari menjadi pahlawan sejati untuk wilayahnya. Darinya kita belajar. Sebelum kasus Mario dan Alun, kita selalu diingatkan oleh sosok-sosok teladan anti korupsi, seperti Bung Hatta yang menolak amplop dalam kunjungannya ke Irian pada tahun 1970, dan menegur Sekretarisnya yang menggunakan tiga lembar kertas kantor Sekretariat Wakil Presiden untuk mengirim surat pribadi.
Jenderal Hoegeng pernah berpesan mengenai cara memberantas korupsi yang menurutnya efektif. "Kalau mau menghilangkan korupsi di negara ini, sebenarnya gampang. Ibaratnya, kalau kita harus dimulai dari atas ke bawah. Membersihkan korupsi juga demikian. Harus dimulai dengan cara membersihkan korupsi di tingkat atas atau pejabatnya lebih dulu, lalu ke turun badan atau level pejabat eselonnya dan akhirnya ke kaki hingga telapak atau ke pengawal bawah," kata Hoegeng kepada anaknya Didit Hoegeng.
Sosok lainnya yang cukup menginspirasi kita adalah Baharuddin Lopa. Jaksa Agung satu ini pernah suatu ketika ingin membeli mobil pribadi karena tidak mau menggunakan mobil dinas untuk kegiatan keseharian. Ia juga sering menerima parsel ketika hari raya, tapi semua parsel yang dikirim ke rumahnya selalu dikembalikan. Sosok pejabat yang sangat bersahaja dan sederhana. Sebagai seorang pejabat, Lopa pun tidak memiliki harta melimpah sampai akhir hidupnya.
Sudah saatnya kita belajar kepada Subari dan sosok-sosok di atas yang berintegritas tebal dengan kesederhanaannya : tidak culas, tidak serakah dan menjunjung falsafah : Sapa salah bakal seleh, Sapa sing ora jujur bakal ajur, dll.
Meski bukan pejabat, Subari, Dia terus menginspirasi para pejabat untuk cakap mengurus warganya bukan menguras masyarakatnya apalagi pamer kemewahan yang ora cetho. Antara Subari dan Alun, bagai langit dan bumi : ya materinya, ya tindakannya.
Akhirnya, berpendidikan tinggi, punya kedudukan atau jabatan saja tak cukup menyantuni kita untuk menjadi “Mr Clean.” Lantas, LHKPN, LHKASN, Revolusi Mental, Pakta Integritas kita ke mana?. (Marjono, Tukang Ketik di Semarang).
*Keseluruhan isi opini merupakan tanggung jawab pengirim.
Kala kasus Mario Dandy Satrio (Mario) viral yang menganiaya Cristalino David Ozora (David). Dari video dan foto yang beredar di media sosial, Mario kerap memamerkan kendaraan dan barang-barang mewah, berlanjut harta kekayaan ayah Mario diungkit mulai netizen, Menkeu hingga KPK.
Terungkap bahwa Rafael Alun Trisambodo (Alun) pegawai eselon III Ditjen Pajak (DJP), memiliki harta kekayaan senilai Rp 56,1 miliar, jumlah yang dinilai tidak wajar bagi ASN Kemenkeu. Bahkan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) telah memblokir 40 lebih rekening Alun dan keluarga bernilai transaksi Rp 500 Miliar yang disinyalir memakai nominee.
Juru Bicara PPATK, Nasir Kongah mengatakan nominee adalah seseorang atau perusahaan yang namanya digunakan untuk pembelian suatu benda. Tetapi, (seseorang atau perusahaan) bukan pemilik asli dari benda tersebut (Kompas, 28/3/2023).
Melalui praktik kelam tersebut, barangkali Mario dan Alun menjadi begitu cepat terkenal, tapi jalan yang diambil keliru bahkan tidak elegan. Dengan kata lain, mereka mungkin sedang mencari panggung tapi ternyata salah panggung. Karena panggung yang satu ini kelewat kusam dan berkonsekwensi pada perkara hukum.
Membaca Mario dan Alun, kita semua menjadi sedih apalagi menyaksikan David yang sampai koma atas bengalnya Mario dan kawan-kawannya. Apa yang digelar oleh orang-orang cakap ini?
Rupanya kasus ini merupakan warisan purba yang narasi dan praktiknya selalu berulang.
Pertama, adidang adigung adiguna (menyombongkan kelebihan yang dia miliki : kekuatan-kekuasaan-kepandaian). Sombong karena jabatan orangtuanya, tinggi hati karena anak orang kaya, pamer bondho donya (harta dunia), dan seterusnya. Padahal keduanya hanya sampiran belaka.
Kedua, mentang-mentang (dumeh) lingkaran kehidupannya serba berkecukupan, apapun yang diinginkan pasti terpenuhi bahkan tak ada yang berani menolak atau nelawan. Merasa paling hebat.
Ketiga, lemah atau tepatnya lenyapnya sense of crisis. Hatinya kusut, bahkan keras atau membatu. Bergeming banget, tanpa peduli dan peka terhadap kepedihan lingkungan masyarakat yang sedang tertimpa musibah, bencana dan kesulitan hidup lainnya.
Kasus Mario dan Alun yang pengap dengan pamer harta kemewahan, khususnya bagi pejabat di lingkungan DJP, bukanlah hal baru. Sebelumnya deretan pegawai pajak yang bermasalah hukum dan viral, seperti Denok Taviperiana dugaan kepemilikan rekening gendut, begitu juga dengan Gayus Tambunan selain rekening tebal, Ia juga memanipulasi pajak, menyuap hakim, menyuap petugas LP hingga membuat paspor palsu. Kemudian ada Tommy Hindratno, juga terseret kasus suap.
Ingat Mario, ingat Alun yang tidak mengalun (lagi), justru membawa jangkar moral dan ingatan saya pada sosok Subari. Dia bukan seorang juragan maupun tuan tanah. Ia adalah petani biasa yang luar biasa karena telah menghibahkan lahan seluas 1.800 meter persegi untuk dijadikan embung. Dia sangat berjasa tidak untuk warganya, tapi juga Jawa Tengah.
Pemprov Jawa Tengah kemudian memberi anggaran sebesar Rp 3,5 miliar untuk membangun embung tersebut. Sebagai apresiasi, embung dinamai Embung Subari. "Terus terang saya lihat petani lain itu kekurangan air, kalau tempat saya kelebihan, jadi supaya bisa merata di Kalibareng saya ikhlas,” kata Subari.
Gubernur Ganjar Pranowo sempat bertanya mimpi apa yang membuat Subari memberikan tanah itu, sedangkan ia bisa mendapat uang lebih banyak jika menjualnya. “Kalau uang kan sekadar saya nikmati sendiri pak, tapi kalau embung dibuat kan masyarakat bisa sejahtera jadi bisa mbantu,” tutur Subari, disambut tepuk tangan tamu undangan dan peserta upacara Hari Pahlawan di Lapangan Simpang Lima, Semarang tahun silam.
Mr Clean
Subari adalah representasi pahlawan hari ini. Subari menjadi pahlawan sejati untuk wilayahnya. Darinya kita belajar. Sebelum kasus Mario dan Alun, kita selalu diingatkan oleh sosok-sosok teladan anti korupsi, seperti Bung Hatta yang menolak amplop dalam kunjungannya ke Irian pada tahun 1970, dan menegur Sekretarisnya yang menggunakan tiga lembar kertas kantor Sekretariat Wakil Presiden untuk mengirim surat pribadi.
Jenderal Hoegeng pernah berpesan mengenai cara memberantas korupsi yang menurutnya efektif. "Kalau mau menghilangkan korupsi di negara ini, sebenarnya gampang. Ibaratnya, kalau kita harus dimulai dari atas ke bawah. Membersihkan korupsi juga demikian. Harus dimulai dengan cara membersihkan korupsi di tingkat atas atau pejabatnya lebih dulu, lalu ke turun badan atau level pejabat eselonnya dan akhirnya ke kaki hingga telapak atau ke pengawal bawah," kata Hoegeng kepada anaknya Didit Hoegeng.
Sosok lainnya yang cukup menginspirasi kita adalah Baharuddin Lopa. Jaksa Agung satu ini pernah suatu ketika ingin membeli mobil pribadi karena tidak mau menggunakan mobil dinas untuk kegiatan keseharian. Ia juga sering menerima parsel ketika hari raya, tapi semua parsel yang dikirim ke rumahnya selalu dikembalikan. Sosok pejabat yang sangat bersahaja dan sederhana. Sebagai seorang pejabat, Lopa pun tidak memiliki harta melimpah sampai akhir hidupnya.
Sudah saatnya kita belajar kepada Subari dan sosok-sosok di atas yang berintegritas tebal dengan kesederhanaannya : tidak culas, tidak serakah dan menjunjung falsafah : Sapa salah bakal seleh, Sapa sing ora jujur bakal ajur, dll.
Meski bukan pejabat, Subari, Dia terus menginspirasi para pejabat untuk cakap mengurus warganya bukan menguras masyarakatnya apalagi pamer kemewahan yang ora cetho. Antara Subari dan Alun, bagai langit dan bumi : ya materinya, ya tindakannya.
Akhirnya, berpendidikan tinggi, punya kedudukan atau jabatan saja tak cukup menyantuni kita untuk menjadi “Mr Clean.” Lantas, LHKPN, LHKASN, Revolusi Mental, Pakta Integritas kita ke mana?. (Marjono, Tukang Ketik di Semarang).
*Keseluruhan isi opini merupakan tanggung jawab pengirim.