Membranding Desa Lewat Film
Darah dan Doa atau Long March of Siliwangi, karya Usmar Ismail (20 Maret 1921 - 2 Januari 1971), adalah film pertama yang disutradarai dan diproduksi perusahaan film Indonesia (Perfini). Maka pengambilan gambarnya yang pertama pada Kamis, 30 Maret 1950, kemudian dijadikan rujukan dan landasan bagi Pemerintah untuk menetapkannya sebagai Hari Film Nasional (1999), seperti dilansir laman lembaga sensor film republik indonesia.
Film hitam putih yang baru dirilis pada Jumat, 1 September 1950, ini mengisahkan perjalanan pulang prajurit Divisi Siliwangi, yang dipimpin Kapten Sudarto (diperankan Del Juzar), dari Jogjakarta menuju Jawa Barat. Di tengah perjalanan, Sudarto dan sahabatnya, Adam, tak hanya harus melawan penjajah Belanda, tapi juga para pemberontak di daerah.
Jika kemudian, Amerika punya Academy Award dengan piala oscarnya dan Indonesia juga memiliki Festival Film Indonesia dengan piala citranya. Di daerah kita mengenal Festival Film Lokal, semisal Bandung, Jogja, Solo, Purbalingga, Tegal, Malang, Cilacap, Semarang, dll.
Forum atau event seperti itu sekurangnya bisa menjadi pembuka kesadaran untuk menegaskan identitas kaum muda melalui karya-karya film yang menghadirkan warna lokal (local colour) sebagai latar kisah. Kekhasan atau keunikan budaya menjadi latar, yang kemudian barangkali memunculkan nilai-nilai keutamaan.
Sekarang, tak sedikit stasiun televisi, rumah produksi yang getol menayangkan film import, budaya hedon, kekerasan, dan lainnya. Lesunya industri film maupun absennya festifal film lokal disokong atas soal pendanaan, benturan misi atau kepentingan dengan elit.
Stigma dari masyarakat yang menuding sineas itu orang yang kurang kerjaan dan ad hoc, tak bisa menjadi gantungan hidup, segmen terbatas, produksi film masih menjadi komoditas mahal untuk ukuran pedesaan sehingga kadang tak bisa menjangkau warga miskin. Bahkan film misbar (gerimis bubar) pun.
Namun demikian, kita masih punya harapan pada sineas-sineas muda yang konsisten dan bersemangat memproduksi film-film yang menguatkan nasionalisme dan kebangsaan, menggotong kepahlawanan, mengedepankan rodinda (romantika, dinamika dan dialektika) bahkan sampai pada perang atau melawan praktik korupsi yang telah menjadi musuh rakyat. Barangkali produk-produk bertema demikian kurang laku dan miskin profit.
Kaum muda lewat usaha film, bisa berkontribusi menyelesaikan PR bangsa, sepeti kemiskinan, pengangguran, kesehatan, infrastruktur, daln sebagainya. Kita bangga pada film besutan anak-anak muda Jawa Tengah yang berhasil menyabet penghargaan Juara II pada kategori SMA/SMK/Sederajat dalam Festival Film Pendek Berbahasa Daerah 2022, dengan judul film ‘Pamit,” oleh kawan-kawan Cinema 17 (SMK YP 17 Kota Magelang).
Begitu pula dengan Film “Golek Upa,” produksi Rumah Banjarsari sebagai Juara III untuk kategori Mahasiswa/Umum. Ataupun karya film domestik yang mengangkat budaya lokal, seperti film Cahaya Dari Timur : Beta Maluku, Silariang : Cinta yang (Tak) Direstui, Mantan Manten, Kucumbu Tubuh Indahku, Tarung Sarung, dan lainnya.
Sumber Belajar
Memandang tradisi sebagai semangat yang bisa diolah kembali ke dalam ekspresi yang baru. Tradisi atau lokalitas, tidak dilihat semata dalam upacara, ritual, kisah atau legenda yang ada dalam satu tradisi; tapi justru ruh dalam tradisi itulah yang menjadi sumber kreatifitas anak muda kita untuk bergairah memproduksi film pendek maupun sederhana, menggali kekayaan budaya, mengangkat potensi unggulan desa dan memviralkannya.
Kemenkraf telah memasukkan video, film dan fotografi sebagai bagian dari 15 subsektor kreatif bangsa. Tak cuma itu, film ala pedesaan pun akan memberi daya hidup bagi industri kreatif, perfilman juga memberi hiburan di tengah penat warga.
Setidaknya melalui event berkilau ini bisa me-rebranding kota bahkan juga desanya dengan segala keunikan dan potensi, mendorong imajinasi dan inovasi, mengajak berpikir out of the box dan memberi opsi tontonan yang mengedukasi warga, khususnya anak-anak muda. Salah satu jalan yang bisa dilakukan oleh pegiat muda film hari ini ialah memperluas sumber tradisi ke-film-annya.
Seperti Film KKN Desa Penari telah membawa desa dengan Rumah Ngluweng, Batu Kapal Piyungan, Jembatan Plunyon Kalikuning Gunung Kidul terkenal. Desa lain yang kesohor gara-gara viralnya di medsos bisa dipanen ke desa Ponggok Klaten dengan primadona wisata airnya yang sanggup mengalirkan pundi-pundi ekonomi setiap hari bagi warganya.
Keliaran dan kreatifitas film dari orang-orang yang bukan berlatar akademik perfilman juga bisa menjadi sumber belajar atau jembatan akademik siapapun untuk memantik sekaligus membangkitkan lokalitas, bak raksasa yang masih tidur.
Lewat sepotong film, tak sedikit memberikan pesan yang mendalam pada nilai edukasi dan pencerahan (sparkling). Mampu mentransformasi sosiokultur hingga ke level akar rumput. Kita tak boleh terimbas wabah myopia, penyakit rabun jauh : kehilangan cara pandang untuk melihat keberagaman dan beragam persoalan bawaannya.
Pendeknya, film dari manapun (desa-kota) juga mampu menjadi media belajar warga dalam mengintrodusir, merevolusi bahkan menginternalisasi sikap mental masyarakat, paling tidak kaum muda menuju sosok produktif dan menginspirasi bagi lingkungan bahkan dunia.
Duta daerah, duta film harus lahir dari sini, yang akan menyuarakan dan memasarkan seluruh potensi alam, wisata, budaya (kearifan lokal) di level yang lebih tinggi. Di sini butuh inovasi, komodifikasi, role model dan konsistensi.
Sedikitnya, kaum muda lewat produksi film, bisa berkontribusi menyelesaikan PR bangsa, seperti kemiskinan, pengangguran, kesehatan, infrastruktur, pangan maupun energi. Inilah bagian tantangan sekaligus peluang kaum muda. *(Marjono, Tukang Ketik di Semarang)
*Keseluruhan isi opini merupakan tanggung jawab pengirim.
Darah dan Doa atau Long March of Siliwangi, karya Usmar Ismail (20 Maret 1921 - 2 Januari 1971), adalah film pertama yang disutradarai dan diproduksi perusahaan film Indonesia (Perfini). Maka pengambilan gambarnya yang pertama pada Kamis, 30 Maret 1950, kemudian dijadikan rujukan dan landasan bagi Pemerintah untuk menetapkannya sebagai Hari Film Nasional (1999), seperti dilansir laman lembaga sensor film republik indonesia.
Film hitam putih yang baru dirilis pada Jumat, 1 September 1950, ini mengisahkan perjalanan pulang prajurit Divisi Siliwangi, yang dipimpin Kapten Sudarto (diperankan Del Juzar), dari Jogjakarta menuju Jawa Barat. Di tengah perjalanan, Sudarto dan sahabatnya, Adam, tak hanya harus melawan penjajah Belanda, tapi juga para pemberontak di daerah.
Jika kemudian, Amerika punya Academy Award dengan piala oscarnya dan Indonesia juga memiliki Festival Film Indonesia dengan piala citranya. Di daerah kita mengenal Festival Film Lokal, semisal Bandung, Jogja, Solo, Purbalingga, Tegal, Malang, Cilacap, Semarang, dll.
Forum atau event seperti itu sekurangnya bisa menjadi pembuka kesadaran untuk menegaskan identitas kaum muda melalui karya-karya film yang menghadirkan warna lokal (local colour) sebagai latar kisah. Kekhasan atau keunikan budaya menjadi latar, yang kemudian barangkali memunculkan nilai-nilai keutamaan.
Sekarang, tak sedikit stasiun televisi, rumah produksi yang getol menayangkan film import, budaya hedon, kekerasan, dan lainnya. Lesunya industri film maupun absennya festifal film lokal disokong atas soal pendanaan, benturan misi atau kepentingan dengan elit.
Stigma dari masyarakat yang menuding sineas itu orang yang kurang kerjaan dan ad hoc, tak bisa menjadi gantungan hidup, segmen terbatas, produksi film masih menjadi komoditas mahal untuk ukuran pedesaan sehingga kadang tak bisa menjangkau warga miskin. Bahkan film misbar (gerimis bubar) pun.
Namun demikian, kita masih punya harapan pada sineas-sineas muda yang konsisten dan bersemangat memproduksi film-film yang menguatkan nasionalisme dan kebangsaan, menggotong kepahlawanan, mengedepankan rodinda (romantika, dinamika dan dialektika) bahkan sampai pada perang atau melawan praktik korupsi yang telah menjadi musuh rakyat. Barangkali produk-produk bertema demikian kurang laku dan miskin profit.
Kaum muda lewat usaha film, bisa berkontribusi menyelesaikan PR bangsa, sepeti kemiskinan, pengangguran, kesehatan, infrastruktur, daln sebagainya. Kita bangga pada film besutan anak-anak muda Jawa Tengah yang berhasil menyabet penghargaan Juara II pada kategori SMA/SMK/Sederajat dalam Festival Film Pendek Berbahasa Daerah 2022, dengan judul film ‘Pamit,” oleh kawan-kawan Cinema 17 (SMK YP 17 Kota Magelang).
Begitu pula dengan Film “Golek Upa,” produksi Rumah Banjarsari sebagai Juara III untuk kategori Mahasiswa/Umum. Ataupun karya film domestik yang mengangkat budaya lokal, seperti film Cahaya Dari Timur : Beta Maluku, Silariang : Cinta yang (Tak) Direstui, Mantan Manten, Kucumbu Tubuh Indahku, Tarung Sarung, dan lainnya.
Sumber Belajar
Memandang tradisi sebagai semangat yang bisa diolah kembali ke dalam ekspresi yang baru. Tradisi atau lokalitas, tidak dilihat semata dalam upacara, ritual, kisah atau legenda yang ada dalam satu tradisi; tapi justru ruh dalam tradisi itulah yang menjadi sumber kreatifitas anak muda kita untuk bergairah memproduksi film pendek maupun sederhana, menggali kekayaan budaya, mengangkat potensi unggulan desa dan memviralkannya.
Kemenkraf telah memasukkan video, film dan fotografi sebagai bagian dari 15 subsektor kreatif bangsa. Tak cuma itu, film ala pedesaan pun akan memberi daya hidup bagi industri kreatif, perfilman juga memberi hiburan di tengah penat warga.
Setidaknya melalui event berkilau ini bisa me-rebranding kota bahkan juga desanya dengan segala keunikan dan potensi, mendorong imajinasi dan inovasi, mengajak berpikir out of the box dan memberi opsi tontonan yang mengedukasi warga, khususnya anak-anak muda. Salah satu jalan yang bisa dilakukan oleh pegiat muda film hari ini ialah memperluas sumber tradisi ke-film-annya.
Seperti Film KKN Desa Penari telah membawa desa dengan Rumah Ngluweng, Batu Kapal Piyungan, Jembatan Plunyon Kalikuning Gunung Kidul terkenal. Desa lain yang kesohor gara-gara viralnya di medsos bisa dipanen ke desa Ponggok Klaten dengan primadona wisata airnya yang sanggup mengalirkan pundi-pundi ekonomi setiap hari bagi warganya.
Keliaran dan kreatifitas film dari orang-orang yang bukan berlatar akademik perfilman juga bisa menjadi sumber belajar atau jembatan akademik siapapun untuk memantik sekaligus membangkitkan lokalitas, bak raksasa yang masih tidur.
Lewat sepotong film, tak sedikit memberikan pesan yang mendalam pada nilai edukasi dan pencerahan (sparkling). Mampu mentransformasi sosiokultur hingga ke level akar rumput. Kita tak boleh terimbas wabah myopia, penyakit rabun jauh : kehilangan cara pandang untuk melihat keberagaman dan beragam persoalan bawaannya.
Pendeknya, film dari manapun (desa-kota) juga mampu menjadi media belajar warga dalam mengintrodusir, merevolusi bahkan menginternalisasi sikap mental masyarakat, paling tidak kaum muda menuju sosok produktif dan menginspirasi bagi lingkungan bahkan dunia.
Duta daerah, duta film harus lahir dari sini, yang akan menyuarakan dan memasarkan seluruh potensi alam, wisata, budaya (kearifan lokal) di level yang lebih tinggi. Di sini butuh inovasi, komodifikasi, role model dan konsistensi.
Sedikitnya, kaum muda lewat produksi film, bisa berkontribusi menyelesaikan PR bangsa, seperti kemiskinan, pengangguran, kesehatan, infrastruktur, pangan maupun energi. Inilah bagian tantangan sekaligus peluang kaum muda. *(Marjono, Tukang Ketik di Semarang)
*Keseluruhan isi opini merupakan tanggung jawab pengirim.