Tuliskan ide / gagasan mu disini

 
 
 
 
 
 
 
Bidang yang ditandai dengan * wajib diisi.
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.
Entri Anda hanya akan terlihat di halaman warganet setelah kami meninjaunya.
Kami berhak untuk mengedit, menghapus, atau tidak mempublikasikan entri.
marjono marjono
30 Maret 2023 at 12:05
Desa dalam Kampus Merdeka

Perguruan tingi atau Kampus Merdeka yang diinisiasi Mendikbudristekdikti, Nabiel Makarim setarik nafas dengan strategi Presiden RI, Joko Widodo, membangun Indonesia dari pinggiran. Harapannya kesejahteraan lebih merata. Kampus Merdeka pun semestinya bisa diterjemahkan dan dipraktikkan di luar kampus, yakni wilayah desa sehingga mampu mengakselerasi pembangunan desa, mengoyak kemurungan desa, membalik kemiskinan desa. Indonesia maju, desa maju.

Terdapat sederet poin penting yang bakal menghela nilai Kampus Merdeka, utamanya yang berelasi dengan bangku para akademisi dalam pembangunan desa. Persentase penduduk miskin pada Maret 2022 sebesar 9,54 persen, menurun 0,17 persen poin terhadap September 2021 dan menurun 0,60 persen poin terhadap Maret 2021. Jumlah penduduk miskin pada Maret 2022 sebesar 26,16 juta orang, menurun 0,34 juta orang terhadap September 2021 dan menurun 1,38 juta orang terhadap Maret 2021.

Persentase penduduk miskin perkotaan pada September 2021 sebesar 7,60 persen, turun menjadi 7,50 persen pada Maret 2022. Sementara persentase penduduk miskin perdesaan pada September 2021 sebesar 12,53 persen, turun menjadi 12,29 persen pada Maret 2022. Membaca angka-angka statistika itu menjukkan rakyat miskin terbesar menempati wilayah pedesaan. Tentu pemangku kepentingan tak berdiam.

Menyikapi keterpurukan tersebut, meski angka kemiskinan sudah pada level satu digit, tak ada salahnya kampus urun angan dan turun tangan, kita pertajam dan masifkan kembali amalan tri dharma perguruan tinggi yang menyangkut pendidikan, penelitian dan pengadian masyarakat.

Jawa Tengah sudah menerapkan model kuliah kerja nyata (KKN) tematik bagi mahasiswa pada 17 daerah zona merah kemiskinan. Para mahasiswa ini diterjunkan pada sesi KKN tematik, harapannya mereka mampu menemukenali probelamatik desa-desa miskin tersebut, memformulasikan solusi dan tindaklanjutnya.

Dengan demikian, mahasiswa betul-betul menggumuli universitas sejati, di tengah masyarakat. Mungkin antara teori, modul dan tekstual perkuliahan akan sangat berbeda jauh dengan praktikum nyata di lapangan. Bagi kampus yang masih mengalokasikan kota sebagai titik KKN nya sebaiknya mulai menggeser lokusnya ke wilayah desa-desa miskin.

Itulah romantika dan tantangan kaum muda. Kita mahfum, kampus bukan menara gading. Kampus tak boleh menjadi ekslusif yang membuat jarak dengan ibu kandungnya, yakni masyarakat.

Pada sekujur kampus, bisa melakukan transfer pengetahuan, ketrampilan dan sikap kepada masyarakat desa. Selain KKN, Kampus dapat membangun tim efektif untuk mendampingi desa dalam perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi maupun pelaporan atas pembangunan desa melalui desa dampingan, desa binaan atau istilah lainnya sebagai desa pilot project mengurai kusutnya desa.

Para mahasiswa dan dosen bisa saja merevitalisasi pertanian yang menjadi alas hidup bagi sebagian besar penduduk desa, cobalah menawarkan sistem pertanian modern, integrated farming system, mengajak kaum milenial desa sukarela mengambil alih regenerasi petani para pendahulunya.

Lompatan komodifikasi pertanian bisa ditawarkan kampus ke desa sehingga masyarakat tak melulu bergantung pada sektor padi. Pada sesi ini, tak kurang baiknya menggaet minat masyarakat dengan mengenalkan inovasi teknologi tepat guna untuk mengolah komoditas mentah menjadi barang benilai ekonomi tinggi.

Ketika menjumpai muramnya UMKM di pedesaan, kampus akan lebih gagah dengan menyentuh mereka dalam soalan SDM, keuangan dan permodalan bahkan pasar. Petani dan UMKM kita jago di urusan produksi tapi merasa kesulitan saat dihadapkan dengan perkara pemasaran produk maupun hasil lainnya.

Dalam relasi ini kampus bisa mengintervensi dengan model edukasi bisnis on line. Karena sekarang era digitalisasi dan otomatisasi. Viralisasi produk lewat media sosial pada era sekarang menjadi pilihan jitu untuk meraup keuntungan secara cepat dan mudah.

Karena di desa itu potensinya tak sedikit, seperti di satu desa tak menutup kemungkinan terdapat beberapa usaha ekonomi produktif atau UMKM dengan beragam produk dan usahanya yang sifatnya masih rintisan (start up), kecil, menengah bahkan barangkali ada yang sudah meneguhkan sebagai industri besar, sehingga mampu membangun lapangan kerja bagi masyarakat di lingkungannya.

Orkestra Kedesaan

Tatkata UMKM desa tersebut bergejolak dengan susahnya mencari pembeli, mendapatkan pasar, maka tak ada jeleknya kampus bisa mengedukasi desa dengan mendirikan co working space atau semacam kantor bersama dengan layanan prima tentunya. Di sini ada klinik usaha, bantuan networking dan problematik lainnya.

Ekspetasinya, lebih hemat dan cepat dalam urusan pemesanan dan pemasaran produk atau order lainnya. Karena di sini menyediakan orang-orang yang punya kompeten dan terkoneksi dengan seluruh sentra atau titik-titik usaha.

Atau kampus bisa kolaborasi dengan mendatangkan best practice, seperti beberapa BUMDes yang mampu meraup pendapatan tak kecil per tahun (Ponggok, Pujon, dll). Undang juga para inventor teknologi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat desa.

Misalnya desa kopi, maka di sana butuh pengurai sabut kelapa, pengolah daging kepala, pengolah tempurung kepala, produk gula kelapa pun bisa dibikin dengan taste original atau sudah adukan dengan bahan lain. Kampus bisa menghandel itu semua. Di sini caring atas desa dipertaruhkan dengan nama besar kampus yang diharapkan well educated, high attittude.

Guna membangun desa yang terbuka, bisa juga kampus mendorong dan menggerakkan barisan profesor, master, sarjana maupun mahasiswanya turun gunung tak cuma saat KKN sebagai dosen pembimbing belaka, lebih dari itu hal ini sekurangnya mampu menjadi motivasi belajar untuk meraih pendidikan tinggi tanpa menindih kedesaannya sesungguhnya. Presiden, Gubernur dan bebarapa Menteri Kabinet Indonesia Maju sudah memberi teladan untuk blusukan di desa-desa, sarasehan dengan masyarakat desa, ngopi barang rakyat desa, dll.

Kini, kampus mesti menjadi motor perubahan, sekurangnya mampu memimpin orkestra Kedesaan dalam keragaman, “Tengoklah dirigen, pasti mulai kerjanya dengan partitur komposisi di tangan, di kepala, dan di hatinya. Tak penting apakah komposisi itu digubahnya sendiri atau warisan dari komposer maestro, atau kombinasi keduanya. Pemimpin orkestra memeriksa semua lini untuk meyakinkan bahwa semua ready. *(Marjono, Tukang Ketik di Semarang)

*Keseluruhan isi opini merupakan tanggung jawab pengirim
Please wait...
Back to top button