Tuliskan ide / gagasan mu disini

 
 
 
 
 
 
 
Bidang yang ditandai dengan * wajib diisi.
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.
Entri Anda hanya akan terlihat di halaman warganet setelah kami meninjaunya.
Kami berhak untuk mengedit, menghapus, atau tidak mempublikasikan entri.
marjono marjono
27 Maret 2023 at 09:38
Kita Butuh Mulut Ndower

Doa hari ini, semoga kita dapat terus belajar dari sejarah bangsa, bagaimana negara yang besar dan kaya ini dibentuk oleh Founding Father kita dengan segenap perjuangan hingga titik darah terakhir yang diikat semangat persatuan dan kesatuan dalam segala rupa gotong royong tanpa pernah membedakan warna, sikap dan asal juga etnis maupun agama kita.

Hari ini NKRI masih saja diusik dari rongrongan kelompok-kelompok radikal dan kelompok separatis yang ingin memisahkan diri dari Indonesia. Oleh karenanya, perlu kita jaga dari berbagai elemen yang ingin memunggungi dan memisahkan diri. Kerukunan antar ummat beragama merupakan unsur utama terjadinya kerukunan nasional, juga menjadi basis kunci dalam menjaga keutuhan negeri.

Syukur kita atas ragam berkah yang luar biasa untuk keselamatan dan kedamaian bangsa. Kemerdekaan yang kita raih pun atas intervensi dan atau anugerah yang diberikan oleh Tuhan, sebagaimana yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945, "Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorong oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.

Kebahagiaan dan kebanggaan kita, karena Indonesia memiliki dasar negara yang diterima di seluruh lapisan masyarakat, yakni Pancasila. Dengan Pancasila, Indonesia menjadi bangsa yang majemuk, bangsa yang memiliki suku dan adat serta agama yang beragam dibawah Bhinneka Tunggal Ika. Agama memberi kita standar moral yang menjadi acuan. Maka, merawat toleransi dalam keberagamaan dan keberagaman ibu pertiwi adalah bagian dari sikap moral orang beragama.

Apresiasi dan terimakasih, kita punya tokoh yang luar biasa seperti Bung Karno yang telah turut melahirkan nilai-nilai luhur, yakni Pancasila. Tokoh-tokoh agama pun rela dan sepakat menerima Pancasila sebagai dasar negara. Negara ini merupakan negara yang dibangun antar kesepakatan. Bukan negara Islam, bukan negara kufur dan bukan negara peperangan. Tapi, negara Indonesia dibangun dari kesepakatan elemen bangsa.

Oleh karena itu, seluruh anazir bangsa bersama mesti bersetia untuk saling hidup berdampingan secara damai, saling membantu, saling mencintai dan menyayangi, sehingga mewujud bangsa yang harmonis sesama anak bangsa.

Belakangan bangsa Indonesia terus diuji oleh berbagai permasalahan yang menerpa seperti intoleransi, radikalisme, terorisme, hoaks, narkoba dan arus globalisasi yang kadang membawa nilai-nilai budaya barat yang apatis, hedonis dan materialistik.

Masyarakat kita juga dengan mudahnya memberikan ujaran kebencian, terutama melalui medsos. Dengan gampangnya kata-kata kotor dan bully dilontarkan untuk mencari pembenaran. Belum lagi pabrik-pabrik kebencian muncul di tengah-tengah kehidupan kita yang terus berupaya memecah belah bangsa.

Selain itu tak sedikit PR besar bangsa ini, selain pandemi, masih menderet angka kemiskinan, pengangguran, kesenjangan, pendidikan, kesehatan, infrastruktur, pangan maupun energi, selalu menanti kontribusi dan aksi nyata kita.

Mari bergandengtangan, urun angan dan turun tangan menyelesaikan persoalan negeri ini dengan melipat, menjauhkan kita dari sindrom kepiting, yaitu perilaku yang saling jegal, hujat, silang melecehkan dan menjatuhkan maupun menjelekkan. Mari sama-sama menjadi part of solution bukan part of problem.

Maka, semangat dan wawasan juga sikap kebangsaan menjadi penting untuk ditumbuhkembangkan, karena rasa kebangsaan sebagai manifestasi dari rasa cinta pada tanah air, pada gilirannya membangkitkan kesadaran kita akan arti betapa berharga dan bernilainya rasa kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia.

Untuk itulah, doa kita hari ini bisa menjadi momentum bagi kita semua untuk mengingatkan kembali betapa pentingnya penyadaran, penanaman dan implementasi sikap dan perilaku kebangsaan kita tak cuma di bibir semata, tapi harus menjadi perilaku harian kita.

Cinta Abadi
Meminjam istilah Bung Karno, Indonesia adalah Negara buat seluruh warganya. Artinya apa, negeri ini bukan cuma milik sekelompok golongan, warna kulit, agama, sikap politik, etnis tertentu saja. Tapi jauh meluas, menjadi milik seluruh rakyat dari sabang sampai merauke tanpa membedakan apapun. Inilah kebhinekaan yang perlu dan harus kita rawat demi dan untuk tegaknya republik ini. Kita optimis, mayoritas rakyat mencintai dan memilih NKRI. Bahkan sebagai cinta abadi atas Indonesia.

Ada tiga hal hebat yang memandu kita dan harus kita perjuangkan di sini, yakni berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan. Kita ingin, kaum muda khususnya harus mampu menjadi garda terdepan dalam melawan berbagai ancaman bangsa. Kaum muda harus mampu menyebarkan virus perdamaian, merajut persatuan dan terus memupuk kegotong-royongan dalam membangun bangsa dan negara. Tidak peduli latar belakang agama kita, berbuatlah yang terbaik untuk Indonesia.

Di tengah kemurungan bangsa, doa kita hari ini kita hanya ingin nderek titip pesen, kalau sekiranya ada perbedaan pendapat atau berlainan warna dalam kontestasi apapun tidak boleh membuat kita terbelah, tercerai berai. Jangan sampai isu-isu SARA muncul di dalamnya. Kita jaga dan kawal proses-proses pembangunan negeri ini agar makin dewasa dan matang, semakin bernyawa dan bermakna bagi rakyat.

Mari kita perkuat jalinan persaudaraan diantara keluarga besar bangsa dalam rumah besar Indonesia yang ditopang pilar-pilar kerukunan, persatuan, penghargaan, toleransi dan harmoni. Semoga, Indonesia senantiasa berada dalam suasana kehidupan yang adem, ayem lan tentrem. Terakhir, mari kita rawat persatuan dan kebersamaan juga kesalehan kita.

Menjadi kerinduan kita atas peran Togog dalam jagat pakeliran dengan tugas yang berat, karena wejangan tentang kebajikan sulit untuk diterima para kesatria asuhannya yang kadang bengal, apalagi untuk dilaksanakannya. Sampai-sampai sosok pencerah itu mulutnya bertambah ndower tapi tetep riang untuk selalu mengajak semua mendaki bukit-bukit kabaikan, tanpa gundah apalagi sampai gusar. *(Marjono, Tukang Ketik di Semarang)

*Keseluruhan isi opini merupakan tanggung jawab pengirim.
Please wait...
Back to top button