Tuliskan ide / gagasan mu disini

 
 
 
 
 
 
 
Bidang yang ditandai dengan * wajib diisi.
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.
Entri Anda hanya akan terlihat di halaman warganet setelah kami meninjaunya.
Kami berhak untuk mengedit, menghapus, atau tidak mempublikasikan entri.
marjono marjono
6 April 2023 at 13:22
Memutus Mata Rantai Bencana

Membaca banjir, melihat tanah longsor dan memahami bencana yang bertubi-tubi yang menelan kerugian harta benda dan nyawa bukanlah kesalahan alam, tapi murni kesalahan manusia mengelola alam. Banjir kiriman, lokal, rob bahkan bandang sudah meradang. Bukan waktunya saling reaktif, emosional, mencari kambing hitam, memaki tanpa memberi solusi.

Sedia payung sebelum hujan maupun penanganan banjir setiap daerah akan berbeda, bergantung akar penyebab terjadinya banjir. Kelakuan masyarakat yang buruk menjadi penyebab utama banjir. Membuang sampah sembarang, menggunduli hutan seenaknya, mendirikan bangunan di bantaran sungai, minimnya penyerapan air ke tanah, pengalihan fungsi lahan, miskinnya ruang terbuka hijau, mangkraknya mata air, sungai, polder, danau dan waduk maupun embung, dll.

Itulah kemudian, edukasi dan pemberdayaan masyarakat untuk melakukan aktivitas keluar dari faktor penyokong utama banjir di atas mutlak dilakukan, diberikan contoh dan gambaran dampak kontraproduktif ketika dilanggar. Itu artinya, tak hanya tanggungjawab pemerintah belaka, tetapi pada seluruh segitiga pentahelix, yakni pemerintah, akademisi dan dunia bisnis serta ditambahkan komunitas (masyarakat).

Maka, kolaborasi bukan lagi utopi, karena pada dasarnya tak ada yang sendirian di dunia ini, semua mesti bergerak, turun, terlibat berikhtiar mencegah, menanggulangi dan mengatasi aneka bencana. Kembali menghidupkan nilai budaya leluhur bangsa, yakni gotong royong, khususnya kerja bakti menjadi bagian pilihan menghadapi banjir. Model kerja ini barangkali dianggap konvensional, tapi efektifitas atas dampak yang diterbitkan luar biasa.

Behimpun jari, gotong royong pada saat bencana datang itu baik, tapi jauh lebih efektif manakala kerja keroyokan itu dilakukan secara regular saat tak ada bencana. Artinya, pencegahan jauh lebih efektif, karena efek jangka panjangnya bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Kerugiannya jauh lebih kecil, menyangkut harta benda, kesehatan, pendidikan bagi anak-anak dan lingkungan. Bersama-sama membersihkan gorong-gorong/selokan, memunguti sampah dan plastik dengan 3R maupun lewat agenda lelang gotong royong. Misalnya, antisipasi bencana dengan cara pengumpulan dana yang ditawarkan kepada para orang kaya, pengusaha dan atau siapapun yang peduli atas keberlangsungan hidup masyarakat marginal yang rentan bencana.

Praktik baik yang dilakukan pemerintah di beberapa daerah, seperti membangun model rumah konstruksi panggung baik model individual maupun sistem komunal menjadi bagian cara menyelamatkan masyarakat dari ritihan banjir yang bisa menyekap setiap saat. Cara ampuh lainnya yang tak kalah jitu, yakni pembuatan embung yang juga telah tak sedikit dibangun pemerintah bahkan hingga aras pedesaan menghalau bahaya banjir.

Di sinilah, paradigma dalam penanggulangan bencana harus bergeser dari responsif ke preventif, semula sektoral menjadi multisektor, dari tanggung jawab pemerintah berubah tanggung jawab bersama, berawal sentralistis menjadi desentralisasi dan dari tanggap darurat menjadi pengurangan risiko bencana.

Pengawasan pemerintah daerah dalam mengawal RTRW nampaknya mesti ditegakkan, salah satunya konservasi kawasan. Aliran investasi penting, namun nutrisi lingkungan juga tak kalah penting. Gerakan-gerakan komunitas, seperti sekolah sungai, penanaman pojon, aksi-aksi membersihkan pantai, danau dari sampah, plastik dan limbah lain layak didorong dan gerakkan secara intensif, karena secara langsung mereka telah ikut membantu pemerintah mengatisipasi bencana secara dini. Artinya, normalisasi dan naturalisasi sungai juga sama pentingnya.

Di samping itu, pembuatan sumur-sumur resapan maupun biopori di lahan pekarangan tempat tinggal, di sekolah/kampus, di kantor, di pasar maupun di ruang publik lain menjadi tawaran yang tidak buruk, karena lewat cara ini sekurangnya kita akan bisa memanen air manakala krisis air menimpa tapi juga mengaliskan banjir menyisir lingkungan.

Local Wisdom

Ketercukupan air tanah sebagai barang publik yang penyebarannya yang tidak merata di semua wilayah, semakin hari semakin menurun kualitas dan kuantitasnya. Peningkatan jumlah penduduk menyebabkan peningkatan intensitas dan volume pemanfaatan air tanah yang melebihi kapasitas sehingga melampaui zona rawan dan kritis. Realisasi dalam pemberdayaan potensi dan pengembangan kearifan lokal dalam penanggulangan bencana dapat dilakukan dengan menyuburkan nilai-nilai gotong royong dalam pencegahan, penanggulangan, maupun rehabilitasi pasca bencana.

Merawat local wisdom (kearifan lokal), seperti pendayagunaan kentongan sebagai Early Warning System (EWS), meski dianggap purba tapi di jaman kini pun masih relevan dipraktikkan. Dulu, kentongan ini adalah sarana komunikasi yang sangat efektif. Kenthong satu (kematian), kenthong dua (pencurian), kenthong tiga (kebakaran), kenthong empat (banjir), dan seterusnya. Kalau perlu kode bunyi kenthongan dipasang pada papan pengumuman di tingkat RT. Siskamling hendaknya juga digalakkan lagi sebagai upaya untuk menjaga keamanan secara mandiri oleh masyarakat.

Pada relasi kebencanaan, kampus pun bisa mengambil peran melalui penerjunan tim SAR perguruan tinggi yang terjun langsung membantu menyelamatkan dan atau mengevakuasi korban maupun lewat program kuliah kerja nyata (KKN) akan lebih bernyawa ketika juga melaksanakan program-program yang berkaitan dengan kebencanaan, misalnya membekali masyarakat dengan kemampuan penanggulangan bencana sesuai tipikal bencana di masing-masing wilayah, membantu pembuatan infrastruktur atau sistem penanggulangan bencana, maupun turut mendorong terbentuknya desa/kelurahan tangguh bencana.

Terakhir, sinergi memutus mata rantai banjir dan bencana lainnya menjadi aksi bukan lagi apriori. Inilah penyadaran, ya pemikiran buat seluruh pemangku kepentingan. *(Marjono, Tukang Ketik di Semarang)

*Keseluruhan isi opini merupakan tanggung jawab pengirim.
Please wait...
Back to top button