Tuliskan ide / gagasan mu disini

 
 
 
 
 
 
 
Bidang yang ditandai dengan * wajib diisi.
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.
Entri Anda hanya akan terlihat di halaman warganet setelah kami meninjaunya.
Kami berhak untuk mengedit, menghapus, atau tidak mempublikasikan entri.
marjono marjono
5 April 2023 at 09:17
Membunyikan Terompet Desa

Salah satu titik tumpu penyelenggaraan pembangunan desa adalah perangkat desa, dari mulai Kepala Desa, Sekretaris Desa, Bendahara Desa, Kepala Urusan (Kaur) Desa, maupun sebutan lainnya. Desa yang maju punya korelasi dengan kualitas perangkat desa. Semakin bagus kapasitas dan daya inovasi perangkat desa akan mendorong percepatan pembangunan desa, demikian sebaliknya.

Indonesia punya tak kurang 74.961 desa atau Jawa Tengah dengan 7.809 keanekaragaman desanya. Desa-desa sekarang melesat perkembangannya karena didukung oleh aparat desa yang cakap, bukan semata karena adanya Dana Desa. Keberadaan Dana Desa hanyalah stimulan, sedangkan partisipan gerakan tetap berhulu kepada perangkat dan warga desa yang berdaya. Ingat dana desa bukan dana sapujagat. Maka kemudian, gotong royong membangun desa penting dan relevan digelorakan seluruh elemen desa.

Masih banyak PR desa, seperti kemiskinan, pengangguran, Pendidikan, Kesehatan, SDM, teknologi, lingkungan, dan sebagainya. Inilah yang mesti kita cari jalan keluarnya. Apalagi pasca pandemi ini, kita harus semakin bekerja keras.

Kita harus bisa membangun desa mandiri dan sejahtera. Ekonomi kerakyatan semestinya terus kita dorong dan gerakan sehingga masyarakat semakin sejahtera. UMKM kita perlu berikan peluru untuk terus bangkit dan berdiri tegak menopang murung ekonomi desa. BUMDEs bisa menjadi rumah baru bagi masyarakat dalam mengelola segala sumber daya alam dan ekonomi desa. Banyak best practice desa-desa yang sukses, kita bisa mencontoh mereka.

Sarana ekonomi desa masih perlu kita benahi, seperti pasar desa atau sarana pengembangan ekonomi lokal. Sebagian dari kita, masih menjual bahan atau komoditas mentah ketimbang yang sudah diolah. Tapi kemudian kita ternyata kekurangan teknologi tepat guna. Jika diolah dengan baik saya yakin akan akan banyak bermunculan produk lokal yang berkualitas. Itulah kemudian, pelatihan usaha ekonomi produktif dengan teknologi sederhana bisa menjadi jalan menaikkan penghasilan warga desa.

Jika kemudian sekarang era teknologi, maka penting bagi desa membangun dan mengembangkan sistem informasi dan data yang lengkap, termasuk data kependudukan, ekonomi dan sebagainya. Juga aplikasi pelayanan publik. Karena era sekarang masyarakat butuh layanan serba cepat, mudah dan murah serta informatif. Desa-desa bisa kita gerakkan melek literasi, seperti mengembangkan sistem informasi desa, e-perpustakaan, menginisiasi pembayaran on line, misalnya PBB, bayar listrik, bayark telpon, bayar leasing, bayar PAM. Atau bayar TV langganan, dan sebagainya. Barangkali nanti tiap desa punya jurnal virtual yang bisa diakses oleh semua warga.
Membuat Coworking Space/Hetero Space untuk tempat anak-anak muda berkarya, berkreasi, berinovasi dan menyalurkan ide-ide kreatifnya. Mendorong UMKM yang ada di desa untuk terus berkembang memanfaatkan teknologi informasi untuk marketing dan promosi.

Frontliner
Selain hal-hal di atas, aneka sumber daya dan budaya desa perlu dikembangkan menjadi komoditas yang punya nilai ekonomi, bahkan sampah sekalipun. Melibatkan masyarakat secara utuh, termasuk rekan-rekan difabel, kaum perempuan dan anak, warga miskin, wakil parpol semua terlibat, seluruhnya turun tangan. Pendeknya memberdayakan mereka. Kebangkitan ekonomi desa dapat terwujud apabila ada upaya sinergis yang melibatkan semua pihak untuk memberdayakan potensi yang ada, melalui terobosan-terobosan inovatif guna menggerakkan ekonomi desa, termasuk SDM.

Satu hal lagi, menyangkut integritas. Jangan sampai perangkat desa dengan aneka posisi jabatannya berperkara hukum gegara terlibat kasus korupsi, gratifikasi dan pungli. Beberapa kasus kelam praktik korupsi harus menjadi lesson learn bagi kita semua. Harapan kita, perangkat desa selalu berkontribusi kepada pembangunan negeri ini, kalau ada masalah semua dirembug baik-baik, kita harus menjadi teladan. Karena apa yang dilakukan masyarakat cerminan dari bagaimana kita menjadi pemimpin, perangkat desa, ya pamong desa. Maka, gotong royong, bahu-membahu harus selalu kita perbarui semangat dan aksinya, tapi terpenting adalah aktor dan spirit di dalamnya terus bergerak. Desa mawa cara, negara mawa tata.

Bencana alam masih mengintai, kita harus meningkatkan kesiapsiagaan terhadap berbagai ancaman bencana yang ada. Mitigasi kebencanaan harus dikuatkan. Bisa di cek dan dipetakan lagi daerah mana saja yang rawan bencana, desa-desa berada di lereng bukit harus diingatkan dan diberikan pemahaman tentang mitigasi kebencanaan. Pamong desa harus bisa lebih antisipatif terhadap bahaya bencana yang mengancam.

Kita penting untuk terus mengingatkan masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan, pelihara saluran irigasi dan tanggul, tingkatkan gotong-royong bersih desa, khususnya di daerah saluran air (parit dan sungai). Budaya menanam pohon harus terus kita gelorakan. Mari kita jaga lingkungan alam kita agar terhindar dari berbagai bencana yang melanda. Mimpi kita nanti betul-betul desa itu sebagai frontliner, menjadi gerbang paling depan untuk membangun, termasuk dalam pelayanan publik yang cepat, mudah dan murah maupun dalam praktik berdemokrasi, salah satunya menolak politik uang.

Sudah saatnya perangkat desa cakap mengurus warga, bukan menguras desa, apalagi harus berjalan ratusan kilometer hanya untuk demo memperpanjang masa jabatan. Di tahun politik ini, nampanya masih relevan, kita masih relevan membunyikan terompet desa, yakni meredefinisi perangkat desa : pamong, aparatur atau ambtenar? *(Marjono, Tukang Ketik di Semarang)


*Keseluruhan isi opini merupakan tanggung jawab pengirim.
Please wait...
Back to top button