Tuliskan ide / gagasan mu disini

 
 
 
 
 
 
 
Bidang yang ditandai dengan * wajib diisi.
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.
Entri Anda hanya akan terlihat di halaman warganet setelah kami meninjaunya.
Kami berhak untuk mengedit, menghapus, atau tidak mempublikasikan entri.
marjono marjono
4 April 2023 at 13:47
Mengerek Pasar Kopi Jawa Tengah

Kopi merupakan salah satu komoditas unggulan di negeri ini, termasuk Jawa Tengah (Jateng). Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa keberadaan kopi Jateng masih belum sepopuler kopi dari beberapa provinsi di Indonesia yang lebih mendunia. Saat ini, kopi Jawa Tengah khususnya menempati urutan ke-7 dari seluruh jenis kopi lokal yang menjadi favorit setelah kopi Gayo, kopi Kintamani, kopi Toraja, kopi Ijen Raung, kopi Meranti dan kopi Flores.

Di Jateng ada 10 daerah sentra penghasil kopi seperti Kabupaten Temanggung, Kabupaten Semarang, Kendal, Jepara, Banjarnegara, Pati, Wonosobo, Purbalingga, Magelang dan Brebes dengan jenis kopi yang banyak dikembangkan adalah kopi robusta dan arabika.

Pada 2019, tercatat produksi kopi di provinsi ini mencapai 22,3 ribu ton. Sebanyak 15.139 ton dihasilkan dari perkebunan rakyat. Di era minum kopi menjadi sebuah tren, Pemerintah Provinsi Jateng berupaya menciptakan akselerasi program agar petani kopi di Jawa Tengah turut merasakan manfaat dari tren tersebut.

Peringatan hari kopi internasional, setiap 1 Oktober, bukan hanya sebagai bentuk penghargaan kepada kopi yang telah menemani umat manusia dalam berbagai situasi dan kondisi, tetapi juga didedikasikan untuk para petani kopi atas upaya mereka memproduksi biji kopi sekaligus mempromosikan perdagangan kopi yang adil di seluruh dunia.

Perkebunan kopi di wilayah Jateng seluas 32.397,47 hektare dengan hasil produksi kopi sebanyak 1.861,87 ton Arabica dan 20.538,07 ton Robusta. Dari hasil panen tersebut, sekitar 70 persennya merupakan sumbangsih dari petani perkebunan rakyat.

Dengan tren yang sedang marak sekarang ini, sudah saatnya kesejahteraan dirasakan petani kopi. Karena produksi kopi bergantung pada mereka, jangan sampai saat pasar kopi sedang melambung seperti ini mereka justru ditinggalkan.

Saat ini kedai kopi telah menjamur di manapun, sehingga meningkatkan total konsumsi domestik. Secara skala nasional, serapan kopi dalam negeri tahun 2019 mencapai 335.540 ton dari total produksi 720.000 ton.
Bahkan, jumlah kedai kopi berjejaring di Indonesia hingga terus meningkat dari tahun ke tahun, dimana market value yang dihasilkan mencapai Rp 4,8 triliun. Kalau yang ritel-ritel modern seperti itu kan pemainnya sudah banyak dan mapan. Maka kita membukakan jalan kepada petani kopi kita untuk masuk ke pasar lain yang tidak kalah besarnya.

Kita ingin kopi petani jadi menu minuman utama di perhotelan di provinsi ini. Baik saat breakfast maupun sajian di kamar dan di cafe. Proses itu telah berjalan di beberapa hotel ternama, seperti seluruh hotel Dafam Grup di Jateng, Hotel Syariah Solo, Aston dan beberapa hotel lain telah teken kontrak langsung dengan petani kopi. Pemprov Jateng yang menjamin kualitasnya. Dan menjamin kontrak itu tidak melalui calo, clear antara petani dengan managemen hotel.

Pemprov Jateng berani menjamin kualitas tersebut karena telah membuat standarisasi kopi yang bakal dipasarkan. Sekurangnya ada 20 Gapoktan (gabungan kelompok tani) yang membawahi ribuan petani kopi dari berbagai wilayah di Jateng yang dibina oleh Dinas Pertanian dan Perkebunan. Seluruh Gapoktan tersebut mengeluarkan produk kopi robusta dengan kualitas setara, dan diberi label Kopi Jateng.

Soal mutu produk, maka perlu upgrading SDM petani kopi dan menggandeng pemuda-pemuda setempat agar kualitas kopi juga semakin bagus. Tak kalah perlunya, juga terus melakukan pengenalan teknologi pascapanen dan pengolahan serta teknik penyeduhan, guna memunculkan karakter dari rasa kopi. Pemprov Jateng juga aktif mendorong pengembangan industri olahan kopi, agar semakin inovatif dengan teknologi olah kopi yang tepat dan benar sekaligus penerapan sistem manajemen mutu dan keamanan pangan sesuai regulasi pangan yang ada.

Strategi industri saat ini adalah Revolusi Industri 4.0. Lima prioritas industri pada era kini, salah satunya adalah industri makanan dan minuman. Implementasi strategi tersebut melibatkan berbagai pihak mulai dari institusi pemerintah, asosiasi industri, pelaku usaha, penyedia teknologi maupun lembaga riset dan pendidikan.

Kita ingin memajukan UMKM, termasuk kopi guna memberikan kesempatan mempromosikan produknya. Promosi menjadi sebuah faktor yang penting dalam strategi pemasaran sebuah produk, sehingga lebih dikenal luas dan disukai masyarakat.

Promosi yang dilakukan tidak hanya melalui berbagai ajang pameran saja, tetapi juga harus lebih kreatif dan inovatif dalam berpromosi. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan dan memaksimalkan kemajuan pasar virtual. Selain tidak terbatas sekat-sekat teritorial, medsos dan website sangat murah, cepat dan mampu menjangkau masyarakat lokal bahkan global.

Siapa sih yang sekarang ga punya medsos, dari anak-anak sampai emak-emak punya medsos, Instagram, Facebook, Twitter, dll. Seperti follower medsos Gubernur Ganjar Pranowo tak sedikit, lebih dari 3 juta follower domestik dan luar negeri. Ini dimanfaatkan betul.

Orang nomor satu Jateng itu membuat โ€œLapak Ganjar,โ€ sebagai ajang promosi produk-produk UMKM, tidak hanya UMKM Jateng, belum lama ini juga punya edisi spesial untuk UMKM provinsi lain. Silakan, khususnya yang punya UMKM kopi, mejeng di IG tersebut.

Jalan bergandengan tangan menjadi pilihan dalam rangka pengembangan industri olahan kopi untuk nantinya menjadi komoditi potensial yang kuat mendukung perekonomian daerah bahkan nasional melalui pasar domestik maupun ekspor. Semoga industri kopi provinsi poros pulau jawa ini semakin maju dan petani kopi tambah sejahtera. *(Marjono, Tukang Ketik di Semarang)

*Keseluruhan isi opini merupakan tanggung jawab pengirim.
Please wait...
Back to top button